Susu Cokelat

by - June 27, 2020

Minggu malam, setelah film superhero kesukaanku berakhir, aku memutuskan tak langsung pulang. Aku menuju sebuah kedai kopi. Memesan minuman dengan cup ukuran sedang namun isinya bukan kopi, aku ingin mengurangi caffeine. Sudah sebulan kira-kira kujauhi minuman hitam pekat nan pahit itu.

Setelah minuman kupegang, tak kulihat kursi kosong di sekitar, selain kursi di depanmu. Dengan sedikit ragu aku mendekatimu. Dengan nada tak yakin aku bertanya. Kursi kosong di depanmu tak adakah yang punya. 

Sesuai harapan, kau menjawab dengan anggukan menandakan iya. Melebihi ekspektasi, kau tawarkan aku mengisi kursi itu karena kau juga tahu tak ada lagi kursi yang bisa kududuki selain yang di depanmu. 

Sedikit canggung, aku duduk sembari mengucap terima kasih. Lagi-lagi kau hanya mengangguk. Kuterjemahkan itu sebagai “Tak masalah, santai saja.”
Aku menyibukkan diri dengan melihat di sekitar, seolah ingin mencari kursi kosong lainnya. Padahal aku tak benar-benar ingin pindah dari sini.

Tak kusangka, kau menjulurkan tanganmu dan berkata “Susu Cokelat.” Aku kaget dan mematung beberapa detik, lalu tatapanmu mengarah ke minuman di depanmu. Aku mengerti dan kubalas “Green Tea,” sambil kutunjukkan minuman yang kubawa. Jabatan tangan kita terlepas. “Green tea dengan topping vanilla, saran dari masnya,”  lanjutku sambil menunjuk ke barista kedai kopi yang melayaniku tadi. Mendengarnya kau hanya tersenyum.

Lalu kau kembali sibuk dengan ponsel di tanganmu. Sedangkan aku kembali sibuk mencari bahan obrolan karena sungguh aku ingin bisa bicara lebih banyak dengan Susu Cokelat di depanku. Namun aku bukanlah orang yang bisa dengan mudah menemukan bahan obrolan, kau pun tampaknya demikian.

Hingga tak kurang dari setengah jam kita duduk berhadapan, tanpa percakapan. Hanya sesekali kau tampak melihat ke arahku, dan aku berkali-kali menatap wajah seriusmu. Dalam hati aku memuji betapa manis Susu Cokelat di depanku. 

Sampai akhirnya kau mengambil tasmu bersiap untuk pergi. Kau mengatakan bahwa kau harus pergi. “Green tea bagus untuk kesehatan,” katamu sebelum pergi. “Susu cokelatmu tampak manis, sebaiknya jangan sering-sering minum itu,” balasku. Kau tersenyum kemudian berlalu.

You May Also Like

0 komentar